Kendari — Tidak semua perjalanan politik dimulai dari ruang rapat atau panggung kekuasaan. Bagi Apriliani Puspitawati, langkah itu justru berawal dari panggung representasi daerah—sebagai mantan Putri Indonesia asal Sulawesi Tenggara.
Lahir di Matahoalu, Konawe pada 10 April 1988, Apriliani tumbuh dengan kesadaran bahwa peran perempuan tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi harus hadir dalam kerja nyata. Namun jauh sebelum aktif di panggung politik, ia telah lebih dulu berproses sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, bahkan sejak masih bekerja sebagai pramugari.
Pengalaman tersebut membentuk kedisiplinan, ketangguhan, dan cara pandangnya dalam melihat masyarakat dari berbagai latar belakang. Dari situlah, jalan pengabdian politiknya semakin menguat.
Kepercayaan masyarakat kemudian mengantarkannya menjadi Anggota DPRD Kota Kendari selama dua periode, 2019–2024 dan 2024–2029, dari dapil Mandonga–Puwatu. Di lembaga legislatif, ia aktif di Komisi II yang membidangi ekonomi dan keuangan, bahkan sempat dipercaya sebagai Ketua Komisi II—posisi strategis yang menuntut ketelitian sekaligus keberpihakan pada kepentingan publik.
Namun, bagi Apriliani, jabatan bukanlah tujuan akhir. Ia memandang politik sebagai ruang pengabdian yang harus diisi dengan tindakan nyata.
“Satu tindakan nyata lebih berarti daripada puluhan diskusi tanpa tindak lanjut,” menjadi prinsip yang ia pegang dalam menjalankan perannya.
Kini, sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Kendari, Apriliani membawa arah kepemimpinan yang menekankan kedekatan dengan persoalan riil masyarakat, serta menjadikan partai sebagai ruang yang inklusif dan responsif.
Baginya, religiusitas dan nasionalisme adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Nilai inilah yang menjadi dasar dalam membangun keberpihakan kepada rakyat, sekaligus mendorongnya untuk terus hadir di tengah masyarakat.
Dalam praktiknya, komitmen itu tak jarang diwujudkan dengan pengorbanan pribadi. Ia tidak segan menggunakan sumber daya sendiri demi membantu masyarakat yang membutuhkan.
Perjalanan panjang—dari pramugari, panggung Putri Indonesia, hingga kursi legislatif menunjukkan satu hal: bahwa pengabdian sejati tidak dibentuk secara instan, tetapi melalui proses panjang, konsistensi, dan keberanian untuk terus hadir bagi rakyat. (bar)

















