KENDARI — DPD PDI Perjuangan Sulawesi Tenggara (Sultra) akan menggelar lomba desain dan peragaan busana nasional kebaya dalam rangka mengikuti Kompetisi Desain Fatmawati Trophy 2026. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Hotel Azizah Kendari, Sabtu, 12 September 2026.
Kompetisi ini menjadi ruang bagi para desainer untuk mengembangkan kreativitas fesyen dengan menjadikan nilai sejarah, perjuangan, dan keteladanan Fatmawati Soekarno sebagai sumber inspirasi.
Panitia kegiatan, Hasan Basri, mengatakan Fatmawati Trophy 2026 tidak hanya menjadi ajang kreativitas di bidang fesyen, tetapi juga membawa semangat untuk mengangkat kembali nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Indonesia melalui karya kebaya.
“Jadi, Kompetisi Desain Fatmawati Trophy 2026 merupakan ajang kreativitas di bidang fesyen yang mengangkat nilai-nilai sejarah, perjuangan, dan keteladanan Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno sebagai sumber inspirasi utama,” ujar Hasan.
Menurut Hasan, kompetisi tersebut juga diharapkan menjadi ruang untuk mereaktualisasi budaya sebagai kearifan lokal masing-masing daerah ke pentas nasional.
“Nanti masing-masing desainer menampilkan ciri khas daerah. Kalau Sultra, dari khas Tolaki, Muna, Buton, dan Moronene,” kata Hasan.
Lomba di Kendari akan diikuti delapan desainer dari tiga provinsi. Sebanyak tiga desainer berasal dari Kendari, dua dari Makassar, Sulawesi Selatan, dan tiga lainnya dari Sulawesi Barat.
“Pesertanya diikuti delapan desainer. Tiga orang dari Kendari, dua dari Makassar, dan tiga dari Sulawesi Barat,” kata Hasan.
Yang menarik, setiap desainer akan membawa identitas budaya daerah masing-masing melalui penggunaan kain tenun khas daerah dalam rancangan kebaya yang ditampilkan.
Untuk peserta dari Sulawesi Tenggara, kekayaan budaya lokal akan direpresentasikan melalui unsur dan karakter kain tenun dari berbagai etnis di Sultra, antara lain Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene.
Sementara peserta dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat juga akan mengangkat kekhasan tenun serta identitas budaya daerah masing-masing dalam karya yang mereka tampilkan.
Konsep tersebut menjadikan panggung lomba bukan hanya sebagai ruang adu kreativitas desain, tetapi juga sebagai etalase keberagaman budaya Sulawesi. Kain tenun daerah dipadukan dengan kebaya untuk menghadirkan rancangan yang tetap berakar pada tradisi sekaligus memiliki sentuhan fesyen kontemporer.
Penggunaan identitas budaya lokal tersebut juga sejalan dengan ketentuan Fatmawati Trophy 2026 yang mendorong peserta mengangkat kearifan lokal atau identitas budaya daerah dalam rancangan kebaya dan kerudung. Wastra unggulan daerah juga dapat digunakan sebagai material maupun aksen desain.
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat berada dalam satu wilayah kompetisi Regional 13 Fatmawati Trophy 2026. Kehadiran delapan desainer dari tiga provinsi di Kendari menjadi bagian dari tahapan kompetisi regional tersebut.
Fatmawati Trophy 2026 diselenggarakan secara berjenjang dari tingkat regional hingga nasional. Kompetisi ini membawa misi pelestarian kebaya sekaligus mendorong pengembangan kreativitas fesyen yang tetap berpijak pada kekayaan budaya Nusantara.
Bagi Sulawesi Tenggara, kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tenun dan identitas budaya daerah melalui medium fesyen. Unsur budaya Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene tidak hanya ditempatkan sebagai ornamen, tetapi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi karya kebaya yang memiliki nilai estetika sekaligus memperkuat keberadaan wastra lokal di tengah perkembangan fesyen Indonesia.
Melalui karya para desainer dari Sulawesi, Fatmawati Trophy 2026 diharapkan menjadi panggung yang mempertemukan kreativitas fesyen, kekayaan wastra, identitas budaya daerah, serta semangat perjuangan Fatmawati Soekarno menuju kompetisi tingkat nasional. (bar)















