“Menyambut Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, mari menengok kembali catatan sejarah penting di balik perumusan ideologi bangsa. Mulai dari sidang BPUPKI hingga kompromi besar 15 menit yang menyelamatkan persatuan Indonesia.”
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Tanggal ini bukan sekadar hari libur nasional, melainkan sebuah momentum besar yang menandai titik balik bersatunya keberagaman suku, ras, dan agama di Indonesia di bawah satu payung filosofi dasar negara.
Bagaimana kronologi sejarah di balik perumusan ideologi bangsa ini?
Berikut adalah catatan sejarah penting yang wajib kita ketahui bersama.
1. Pembentukan BPUPKI dan Desakan Perang
Sejarah lahirnya Pancasila bermula dari situasi kritis Perang Dunia II pada awal tahun 1945. Posisi militer Jepang yang mulai terdesak oleh pasukan Sekutu membuat mereka mencoba mengambil hati rakyat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan.
Sebagai langkah konkret, pada tanggal 1 Maret 1945, Jepang mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan yang beranggotakan 67 orang ini diresmikan pada 29 April 1945 dan diketuai oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat.
2. Sidang Pertama: Mencari Fondasi Negara
BPUPKI menggelar sidang pertamanya pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945 di Gedung Chuo Sangi In (sekarang dikenal sebagai Gedung Pancasila) di Jakarta. Agenda tunggal sidang ini adalah membahas hal paling mendasar: Apa yang akan menjadi dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?
Dalam sidang empat hari tersebut, ada tiga tokoh bangsa yang tampil memaparkan gagasan besar mereka mengenai rumusan dasar negara secara bergantian:
- Mr. Mohammad Yamin (29 Mei 1945): Menyampaikan lima asas, yaitu Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat.
- Prof. Dr. Soepomo (31 Mei 1945): Menekankan teori negara integralistik (persatuan) dengan lima prinsip: Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan Lahir dan Batin, Musyawarah, dan Keadilan Rakyat.
- Ir. Soekarno (1 Juni 1945): Menyampaikan pidato legendaris tanpa teks yang mengusulkan lima prinsip dasar, yang secara spesifik beliau beri nama Pancasila.

3. Momen Emas 1 Juni 1945
Pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 menjadi puncak dari jalannya sidang. Dalam pidatonya, beliau menjelaskan bahwa Pancasila adalah sebuah Philosofische Grondslag (fondasi filosofis) atau Weltanschauung (pandangan dunia) tempat berdirinya negara Indonesia modern.
Lima sila yang diusulkan oleh Bung Karno saat itu meliputi:
- Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme
- Internasionalisme atau Perikemanusiaan
- Mufakat atau Demokrasi
- Kesejahteraan Sosial
- Ketuhanan yang Berkebudayaan
Melalui musyawarah, nama “Pancasila” ini diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota sidang. Peristiwa inilah yang menjadi dasar yuridis mengapa tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.
4. Panitia Sembilan dan Piagam Jakarta
Setelah sidang pertama usai, rumusan Pancasila belum sepenuhnya bersifat final. BPUPKI kemudian membentuk Panitia Sembilan yang dipimpin oleh Ir. Soekarno untuk mematangkan materi dasar negara tersebut.
Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan berhasil menyusun Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Dalam dokumen tersebut, sila pertama Pancasila awalnya berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
5. Detik-Detik Krusial: Kompromi Besar 18 Agustus 1945
Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya pada sore hari 17 Agustus 1945, sebuah momentum penting terjadi. Mohammad Hatta menerima aspirasi mendesak dari utusan wilayah Indonesia bagian timur (tokoh-tokoh berlatar belakang Kristen/Katolik). Mereka menyatakan keberatan dengan kalimat pada sila pertama di Piagam Jakarta tersebut dan merasa tidak terwakili dalam negara baru ini.
Merespons situasi kritis yang bisa mengancam integrasi bangsa, pada pagi hari 18 Agustus 1945, Bung Hatta langsung menggelar rapat kilat bersama tokoh-tokoh Islam terkemuka, seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Mohammad Hasan.
Hanya dalam waktu sekitar 15 menit sebelum Sidang PPKI dimulai, terjadi diskusi yang sangat mendalam namun penuh kedewasaan politik. Demi menjaga keutuhan Republik Indonesia yang baru berumur satu hari, para tokoh Islam dengan jiwa besar dan keikhlasan luar biasa sepakat untuk menghapus 7 kata tersebut.
Kalimat tersebut kemudian diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti yang kita kenal sekarang. Rumusan baru inilah yang kemudian disahkan secara resmi oleh PPKI dalam Pembukaan UUD 1945 pada hari itu juga.
Pancasila tidak lahir dalam waktu semalam. Ia merupakan hasil dari perdebatan intelektual yang matang, kompromi politik yang bijaksana, dan refleksi mendalam dari para pendiri bangsa atas identitas riil masyarakat Nusantara. Penghapusan tujuh kata di Piagam Jakarta menjadi bukti otentik toleransi tertinggi demi tegaknya persatuan nasional. Memahami sejarah ini adalah cara terbaik bagi kita untuk menjaga dan merawat nilai-nilai kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia modern saat ini.
Selamat Menyambut Hari Lahir Pancasila, 1 Juni.
Sumber Rujukan / Referensi:
- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI – Sejarah Pancasila.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) – Risalah Sidang BPUPKI.
- Sekretariat Negara RI (1995) – Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).















