Oleh : Apriliani Puspitawati – Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Kendari
Banjir besar yang melanda Kota Kendari beberapa hari terakhir sesungguhnya belum sepenuhnya pergi. Air memang mulai surut di sebagian wilayah, tetapi jejaknya masih tertinggal di rumah-rumah warga, di lumpur yang mengering perlahan, dan terutama di rasa cemas masyarakat yang belum benar-benar hilang.
Kita ketahui BMKG kembali memprediksi hujan akan mengguyur Kota Kendari mulai Jumat, kekhawatiran itu kembali muncul. Warga di bantaran Sungai Wanggu, BTN Zelika, Lepo-Lepo, hingga sejumlah kawasan rendah lainnya mulai bertanya dalam hati: apakah banjir akan datang lagi?
Pertanyaan itu bukan sekadar ketakutan biasa. Ia lahir dari pengalaman.
Banyak warga yang sebelumnya tidak menyangka air bisa naik begitu cepat. Ada yang menyelamatkan anak-anak di tengah malam, ada yang mengangkat barang seadanya ke tempat lebih tinggi, dan ada pula yang hanya bisa pasrah melihat rumahnya terendam.
Karena itu, peringatan cuaca hari ini tidak boleh dianggap sebagai informasi biasa. Kota Kendari tidak boleh lengah.
Banjir memang dipicu hujan deras, tetapi kita juga harus jujur bahwa persoalan banjir tidak sesederhana cuaca. Drainase yang tersumbat, sedimentasi sungai, alih fungsi lahan, hingga pembangunan yang tidak sepenuhnya memperhatikan daya dukung lingkungan menjadi pekerjaan rumah yang selama ini terus berulang.
Saat hujan datang dalam volume besar, semua persoalan itu akhirnya terlihat bersamaan. Air mencari jalannya sendiri. Dan ketika ruang resapan makin sempit, permukiman warga yang menjadi korban pertama.
Di sisi lain, bencana ini juga memperlihatkan wajah solidaritas masyarakat Kendari. Banyak relawan turun membantu, dapur umum berdiri, bantuan datang dari berbagai pihak, termasuk komunitas, organisasi, hingga partai politik.
Namun bantuan darurat saja tidak cukup. Kota ini membutuhkan langkah yang lebih panjang dari sekadar respons sesaat setelah banjir datang.
Normalisasi drainase, penataan kawasan bantaran sungai, pengendalian sampah, hingga evaluasi tata ruang harus mulai dibicarakan secara serius. Sebab jika tidak, setiap musim hujan masyarakat hanya akan mengulang kecemasan yang sama dari tahun ke tahun.
Hujan mungkin tidak bisa dihentikan. Tetapi dampaknya seharusnya bisa dikurangi jika kota ini dibangun dengan kesiapan dan kesadaran bersama.
Hari ini warga Kendari tidak hanya berharap cuaca membaik. Mereka berharap ada perubahan nyata agar banjir tidak terus menjadi langganan setiap kali langit mulai gelap.
Kini, saat hujan kembali diprediksi datang, Kota Kendari tidak boleh hanya sibuk bersiap menghadapi banjir berikutnya. Kota ini harus mulai membenahi dirinya.
Sebab masyarakat tidak bisa terus hidup dalam kecemasan setiap musim hujan tiba. Sudah waktunya semua pihak; pemerintah, anggota dewan, dunia usaha, dan masyarakat bersama-sama menjaga sungai, memperbaiki drainase, menata lingkungan, dan membangun kota dengan lebih bijak.
Karena Kendari bukan hanya tempat untuk bertahan dari banjir, tetapi rumah yang harus diwariskan dalam keadaan lebih baik kepada generasi berikutnya. (apr)

















