JAKARTA — Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri menyerukan pentingnya membangun peradaban dunia yang berkeadilan dan menolak dominasi hukum rimba dalam tatanan global.
Seruan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Gubernur Bali Wayan Koster pada pembukaan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Uluwatu, Badung, Bali, Senin (29/6).
Di hadapan tokoh lintas negara, agama, budaya, dan kalangan akademisi, termasuk mantan Menko Polhukam Mahfud MD, Megawati menyoroti kondisi dunia yang dinilainya semakin mencemaskan akibat persaingan hegemoni, konflik bersenjata, serta dominasi sepihak di bidang ekonomi, teknologi, dan informasi yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan.
Berangkat dari pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk yang dipersatukan oleh Bhinneka Tunggal Ika, Megawati menawarkan lima agenda strategis sebagai upaya menyelamatkan masa depan peradaban dunia.
Agenda pertama adalah membangun regulasi global yang berkeadilan dengan menolak dominasi kekuatan tertentu dan mengedepankan hukum hati nurani. Kedua, memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengembalikan fungsinya sebagai penegak perdamaian yang adil. Ketiga, mereformasi sistem keuangan global agar tidak menindas negara-negara berkembang.
Selanjutnya, Megawati mendorong pengembangan kearifan lokal dengan menjadikan tradisi dan budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sistem kebudayaan melalui peningkatan kualitas manusia lewat pendidikan, kesehatan, serta pelestarian identitas budaya setiap bangsa.
“Dunia yang setara dan bermartabat tidak boleh dipimpin oleh hukum rimba, melainkan oleh hukum hati nurani. Alam semesta bekerja dengan hukum harmoni, menjaga keseimbangan, keterhubungan, dan kerja sama, bukan benturan kekuatan,” demikian pesan Megawati yang dibacakan Wayan Koster.
Dalam sambutannya, Megawati juga memberikan perhatian khusus kepada Bali yang dinilainya sebagai wajah peradaban Indonesia di mata dunia. Menurutnya, Pulau Dewata mencerminkan harmoni antara alam, spiritualitas, budaya, dan kemanusiaan.
Ia menilai filosofi Tri Hita Karana yang hidup di tengah masyarakat Bali sangat relevan dijadikan cetak biru bagi upaya mewujudkan perdamaian dunia yang saat ini diwarnai berbagai konflik.
Megawati juga mengutip pesan Proklamator Soekarno bahwa internasionalisme tidak dapat tumbuh subur apabila tidak berakar pada nasionalisme. Karena itu, kecintaan terhadap tanah air harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral untuk membangun dunia yang lebih baik.
Pada akhir pesannya, Megawati mengajak generasi muda di seluruh dunia mengambil peran sebagai pembangun jembatan persaudaraan, bukan menjadi penegak tembok pemisah, demi terwujudnya peradaban dunia yang harmonis.
“Saya mengajak generasi muda di seluruh dunia untuk menjadi pembangun jembatan persaudaraan (bridge builders), bukan justru menjadi penegak tembok pemisah, demi terwujudnya peradaban dunia yang harmonis,” tutupnya.

















